Perkuat Rupiah, Indef sarankan pemerintah hapus pungutan ekspor kelapa sawit
Ekonom Institute for Development of
Economics and Finance (Indef), Bhima Yudistira mengusulkan kepada
pemerintah untuk menghapus pungutan ekspor kelapa sawit dan produk
turunannya. Ini diperlukan karena sektor kelapa sawit berpotensi
menambah devisa negara.
"Karena devisa dari ekspor kelapa sawit ini penyumbang devisa paling
tinggi. Jadi pungutan USD 50 per ton minyak sawit dan USD 30 per ton
untuk produk turunannya itu dihapus saja," kata Bhima di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (8/9).
Di kesempatan yang sama, dalam rangka mengurangi defisit neraca transaksi berjalan dan transaksi perdagangan, pemerintah harus konsisten dalam pengurangan impor BBM.
Bhima mencatat, saat ini impor BBM menjadi penyumbang kebutuhan Dolar paling besar. Dengan mengurangi impor diharapkan mampu menekan defisit transaksi berjalan dan perdagangan yang nantinya akan membantu penguatan Rupiah.
"B20 sudah cukup baik. Ketergantungan minyak harus dikurangi dengan mempercepat konversi gas dan percepat peningkatan penggunaan energi baru terbarukan," Bhima menambahkan.
Seperti diketahui, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mampu menguat menjelang akhir pekan ini.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Rupiah menguat tujuh poin ke posisi Rp 14.884 per USD pada 7 September 2018 dari periode Kamis 6 September 2018 di kisaran Rp 14.891 per USD.
Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg, Rupiah menguat ke posisi Rp 14.820 per USD. Bahkan saat pembukaan, Rupiah menguat 25 poin dari Rp 14.893 pada penutupan kemarin ke posisi Rp 14.868 per USD. Rupiah pun bergerak di kisaran Rp 14.820 - Rp 14.907 per USD sepanjang Jumat pekan ini.
Reporter: Ilyas Istianur Praditya
BERITA TERKAIT
- Prabowo doakan Jokowi mampu atasi pelemahan Rupiah
- Sandiaga jual 35 persen aset dolar AS miliknya
- Rupiah dekati Rp 15.000/USD, Polri kaji potensi kerawanan di masyarakat
Di kesempatan yang sama, dalam rangka mengurangi defisit neraca transaksi berjalan dan transaksi perdagangan, pemerintah harus konsisten dalam pengurangan impor BBM.
Bhima mencatat, saat ini impor BBM menjadi penyumbang kebutuhan Dolar paling besar. Dengan mengurangi impor diharapkan mampu menekan defisit transaksi berjalan dan perdagangan yang nantinya akan membantu penguatan Rupiah.
"B20 sudah cukup baik. Ketergantungan minyak harus dikurangi dengan mempercepat konversi gas dan percepat peningkatan penggunaan energi baru terbarukan," Bhima menambahkan.
Seperti diketahui, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mampu menguat menjelang akhir pekan ini.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Rupiah menguat tujuh poin ke posisi Rp 14.884 per USD pada 7 September 2018 dari periode Kamis 6 September 2018 di kisaran Rp 14.891 per USD.
Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg, Rupiah menguat ke posisi Rp 14.820 per USD. Bahkan saat pembukaan, Rupiah menguat 25 poin dari Rp 14.893 pada penutupan kemarin ke posisi Rp 14.868 per USD. Rupiah pun bergerak di kisaran Rp 14.820 - Rp 14.907 per USD sepanjang Jumat pekan ini.
Reporter: Ilyas Istianur Praditya
Comments
Post a Comment